Senin, 12 Maret 2012

ASKEP IBU HAMIL


ASKEP Ibu Hamil dengan HIV/AIDS

BAB I
PENDAHULUAN

      1.1  Latar Belakang
Kehamilan merupakan peristiwa alami yang terjadi pada wanita, namun kehamilan dapat mempengaruhi kondisi kesehatan ibu dan janin terutama pada kehamilan trimester pertama. Wanita hamil trimester pertama pada umumnya mengalami mua, muntah, nafsu makan berkurang dan kelelahan. Menurunnya kondisi wanita hamil cenderung memperberat kondisi klinis wanita dengan penyakit infeksi antara lain infeksi HIV-AIDS[1].
HIV/AIDS adalah topic yang sangat sensitive dan lebih banyak sehingga banyak penelitian melibatka anak-anak yang rentan untuk terjangkit HIV. Setiap usaha dilakukan untuk memastikan bahwa keluarga akan merasa baik [2].
Penyakit AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) merupakan suatu  syndrome/kumpulan gejala penyakit yang disebabkan oleh Retrovirus yang menyerang sistem kekebalan atau pertahanan tubuh. Dengan rusaknya sistem kekebalan tubuh, maka orang yang terinfeksi mudah diserang penyakit-penyakit lain yang berakibat fatal, yang dikenal dengan infeksi oportunistik. Kasus AIDS pertama kali ditemukan oleh Gottlieb di Amerika Serikat pada tahun 1981 dan virusnya ditemukan oleh Luc Montagnier pada tahun 1983[3].
Acquired immunodeficiency syndrome (AIDS) adalah penyebab penyakit dan kematian yang terkemuka di kalangan perempuan dan anak-anak di negara-negara dengan tingkat infeksi human immunodeficiency virus (HIV) yang tinggi. Transmisi HIV dari ibu ke anak (Mother To Child Transmission – MCTC) adalah rute infeksi HIVpada anak yang paling signifikan. Beberapa intervensi telah terbukti efektif dalam mengurangi MTCT termasuk pilihan persalinan secara caeseran, substitusi menyusui dan terapi antiretroviral selama kehamilan, persalinan, dan pasca melahirkan. Jika intervensi ini diterapkan dengan benar maka dapat mengurangi MTCT sebesar 2% [4].
Orang-orang yang terinfeksi positif  HIV yang mengetahui status mereka mungkin dapat memberikan manfaat. Namun, seks tanpa perlindungan antara orang yang yang berisiko membawa HIV sero-positif sebagai super infeksi, penularan infeksi seksual, dan kehamilan yang tidak direncanakan dapat membuat penurunan kesehatan seksual dan reproduksi. Hal ini jelas bahwa banyak pasangan yang harus didorong untuk melakukan tes HIV untuk memastikan status mereka dengan asumsi bahwa mereka mungkin terinfeksi karena pernah memiliki hubungan seksual denga seseorang yang telah diuji dan ditemukan sero-positif HIV[5].
Komunikasi seksualitas antara orangtua dan anak telah diidentifikasi sebagai factor pelindung untuk seksual emaja dan kesehatan reproduksi, termasuk infeksi HIV. Meningkatkan kesehatan seksual dan reproduksi remaja merupakan prioritas dunia. Intervensi yang bertujuan untuk menunda perilaku seksual, mengurangi jumlah pasangan seksual dan meningkatkan penggunaan kondom. Dari penelitian yang dilakukan di negara berkembang  menunjukkan bahwa pendidikan seksualitas memiliki potensi untuk memberikan dampak positif pada pengetahuan, sikap, norma dan niat, meskipun mengubah perilaku seksual sangat terbatas[6].
Evolusi infeksi HIV menjadi penyakit kronis memiliki implikasi di semua pengaturan perawat klinis. Setiap perawat harus memiliki perawatan klinis. Setiap perawat harus memiliki pengetahuan tantang pencegahan, pemeriksaan, pengobatan, dan kronisitas dari penyakit dalam rangka untuk memberikan perawatan yang berkualitas tinggi kepada orang-orang dengan atau berisiko untuk HIV[7].

     1.2  Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dalam penulisan makalah ini adalah agar mahasiswa dapat :
      a.      Memahami tentang penyakit HIV/AIDS
      b.      Mengetahui bagaimana epidemiologi HIV/AIDS
c.       Mengetahui etiologi pada HIV/AIDS
d.      Memahami patoghenesis pada HIV/AIDS
e.       Memahami manifestasi klinis pada HIV/AIDS
f.       Mengetahui cara pemeriksaan diagnostik HIV/AIDS
g.      Memahami pengobatan HIV/AIDS
h.      Mengetahui pencegahan HIV/AIDS
i.        Mengetahui prognosis pada HIV/AIDS
j.        Mengetahui asuhan keperawatan pada ibu hamil dengan HIV/AIDS

      1.3  Perumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang terdapat dalam makalah ini, antara lain :
       a.       Apa pengertian HIV/AIDS ?
       b.      Bagaimana epidemiologi HIV/AIDS)?
       c.       Bagaimana etiologi pada HIV/AIDS?
       d.      Bagaimana patoghenesis pada HIV/AIDS?
       e.       Bagaimana manifestasi klinis pada HIV/AIDS?
      f.       Bagaimana pemeriksaan diagnostik HIV/AIDS?
g.      Bagaimana pengobatan HIV/AIDS?
      h.      Bagaimana pencegahan HIV/AIDS?
      i.        Bagaimana prognosis pada HIV/AIDS?
      j.        Bagaimana asuhan keperawatan pada ibu hamil dengan HIV/AIDS?






























BAB II
PEMBAHASAN

      2.1  Pengertian
Human immunodeficiency virus (HIV) adalah retrovirus yang menginfeksi sel-sel sistem kekebalan tubuh, menghancurkan atau merusak fungsinya. Selama infeksiberlangsung, sistem kekebalan  tubuh menjadi lemah, dan orang menjadi lebih rentan terhadap infeksi. Tahap yang lebih lanjut dari infeksi HIV adalah acquired immunodeficiency syndrome (AIDS). Hal inidapat memakan waktu 10-15tahun untukorang yangterinfeksi HIVhingga berkembang menjadiAIDS; obat antiretroviral dapat memperlambat proses lebih jauh.HIV ditularkan melalui hubungan seksual(anal atau vaginal), transfusi darah yang terkontaminasi, berbagi jarum yang terkontaminasi, dan antara ibu dan bayinyaselama kehamilan, melahirkan dan menyusui[8]
Kehamilan adalah keadaan mengandung embrio atau fetus didalam tubuh, setelah penyatuan sel telur dan spermatozoon. Kehamilan ditandai dengan berhentinya haid; mual yang timbul pada pagi hari (morning sickness); pembesaran payudara dan pigmentasi puting; pembesaran abdomen yang progresif. Tanda-tanda absolut kehamilan adalah gerakan janin, bunyi jantung janin, dan terlihatnya janin melalui pemerikasaan sinar-X, atau USG[9].
AIDS (Acquired Immuno Deficiency Syndrome) adalah sindrom gejala penyakit infeksi oportunistik atau kanker tertentu akibat menurunnya sistem kekebalan tubuh oleh infeksi HIV (Human Immunodeficiency Virus) (Fogel, 1996)[9].
Menurut laporan CDR (Center for Disease Control) Amerika mengemukakan bahwa jumlah wanita penderita AIDS di dunia terus bertambah, khususnya pada usia reproduksi. Sekitar 80% penderita AIDS anak-anak mengalami infeksi prenatal dari ibunya. Seroprevalensi HIV pada ibu prenatal adalah 0,0-1,7%, saat persalinan 0,4-0,3% dan 9,4-29,6% pada ibu hamil yang biasa menggunakan narkotika intravena[10].
            Wanita usia produktif merupakan usia yang berisiko tertular infeksi HIV. Dilihat dari profil umur, ada kecendrungan bahwa infeksi HIV pada wanita mengarah ke umur yang lebih  muda, dalam arti bahwa usia muda lebih banyak terdapat wanita yang terinfeksi, sedangkan pada usia di atas 45 tahun infeksi pada wanita lebih sedikit. Dilain pihak menurut para ahli kebidanan bahwa usia reproduktif merupakan usia wanita yang lebih tepat untuk hamil dan melahirkan. Hasil survey di Uganda pada tahun 2003 mengemukakan bahwa prevalensi HIV di klinik bersalin adalah 6,2%, dan satu dari sepuluh orang Uganda usia antara 30-39 tahun positif HIV-AIDS perlu diwaspadai karena cenderung terjadi pada usia reproduksi[10].
Kehamilan merupakan usia yang rawan tertular HIV-AIDS. Penularan HIV-AIDS pada wanita hamil terjadi melalui hubungan seksual dengan suaminya yang sudah terinfeksi HIV. Pada negara berkembang isteri tidak berani mengatur kehidupan seksual suaminya di luar rumah. Kondisi ini dipengaruhi oleh sosial dan ekonomi wanita yang masih rendah, dan isteri sangat percaya bahwa suaminya setia, dan lagi pula masalah seksual masih dianggap tabu untuk dibicarakan[10].
Wanita hamil lebih berisiko tertular Human Immunodeficien Virus (HIV) dibandingkan dengan wanita yang tidak hamil. Jika HIV positif, wanita hamil lebih sering dapat menularkan HIV kepada mereka yang tidak terinfeksi daripada wanita yang tidak hamil International Microbicides Conference 2010, abstract
#8). Peningkatan kerentanan untuk terinfeksi HIV selama kehamilan adalah mereka yang berperilaku seks bebas dan mungkin karena penyebab biologis yang tidak diketahui[11].
Sebagaimana diketahui penderita HIV (Human Immunodeficiency Virus) dan AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) meningkat setiap tahunnya di seluruh dunia, terutama di Afrika dan Asia. Diperkirakan dewasa ini terdapat puluhan juta penderita HIV/AIDS. Sekitar 80% penularan terjadi melalui hubungan seksual, 10% melalui suntikan obat (terutama penyalahgunaan narkotika), 5% melalui transfusi darah dan 5% dari ibu melalui plasenta kepada janin (transmisi vertikal). Angka terjadinya transmisi vertikal berkisar antara 13-48%[12].
            Pada pemeriksaan antenalal (ANC), pada ibu hamil biasanya dilakukan pemeriksaan laboratorium terhadap penyakit menular seksual. Namun, ibu hamil memiliki otonomi untuk menyetujui atau menolak pemeriksaan terhadap HIV, setelah diberikan penjelasan yang memuaskan mereka dan dokter harus menghormati otonomi pasiennya. Bagi ibu hamil yang diperiksa dan ternyata HIV sero-positif, perlu diberi kesempatan untuk konseling mengenai pengaruh kehamilan terhadap HIV, risiko penularan dari ibu ke anak, tentang pemeriksaan dan terapi selama hamil, rencana persalinan, masa nifas dan masa menyusui[12].
            Kerahasiaan perlu dijaga dalam melaporkan kasus-kasus HIV sero-positif. Dalam hal ini diserahkan kepada ibu bersangkutan untuk menyampaikan hasilnya kepada pasangannya, perlu dipertimbangkan untuk ruginya membuka rahasia pekerjaan dokter. Tentulah dalam memabuka rahasia ini akan berpengaruh terhadap hubungannya dengan keluarga, teman-teman, dan kesempatan kerja, juga berkurangnya kepercayaan pasien terhadap dokternya[12].
            Untuk pasangan infertil yang menginginkan teknologi reproduksi yang dibantu dan salah satu atau keduanya terinfeksi HIV adalah etis, jika kepada mereka diberikan pelayanan tersebut. Dengan kemanjuan pengobatan masa kini, penderita HIV dapat hidup lebih panjang dan risiko penularan dari ibu ke anak berkurang. Dokter dengan HIV positif tidak perlu memberitahukan pasiennya tentang dirinya, tetapi harus berhati-hati melakukan tindakan-tindakan medik yang mengandung risiko, seperti pembedahan obstetrik dan ginekologi, serta berhati-hati dengan alat-alat yang digunakan[12].
            Kasus HIV dan AIDS disebabkan oleh transmisi heteroseksual. Kehamilan pada ibu dengan AIDS menimbulkan dilema, yaitu perkembangan penyakit, pilihan penatalaksanaan, dan kemungkinan transmisi vertikal pada saat persalinan. Transmisi infeksi lewat plasenta ke janin lebih dari 80%.  Antibodi ibu melewati plasenta, dan dapat diteliti melalui uji bayi mereka. Uji antiboti bayi dapat menentukan status HIV ibu. Uji terbaru untuk bayi adalah reaksi rantai polimer (polymerase chain reaction, PCR) yang mengidentifikasi virus HIV neonatus. Diperlukan pemeriksaan virus HIV yang terintegrasi pada pemeriksaan rutin ibu hamil untuk melindunginya[13].

      2.2  Epidemiologi
Penyakit AIDS dewasa ini telah terjangkit dihampir setiap negara didunia (pandemi), termasuk diantaranya Indonesia. Hingga November 1996 diperkirakan telah terdapat sebanyak 8.400.000 kasus didunia yang terdiri dari 6,7 juta orang dewasa dan 1,7 juta anak-anak. Di Indonesia berdasarkan data-data yang bersumber dari Direktorat Jenderal P2M dan PLP Departemen Kesehatan RI sampai dengan 1 Mei 1998 jumlah penderita HIV/AIDS sebanyak 685 orang yang dilaporkan oleh 23 propinsi di Indonesia. Data jumlah penderita HIV/AIDS di Indonesia pada dasarnya bukanlah merupakan gambaran jumlah penderita yang sebenarnya. Pada penyakit ini berlaku teori “Gunung Es“ dimana penderita yang kelihatan hanya sebagian kecil dari yang semestinya. Untuk itu WHO mengestimasikan bahwa dibalik 1 penderita yang terinfeksi telah terdapat kurang lebih 100-200 penderita HIV yang belum diketahui[2].
Sampai saat ini obat dan vaksin yang diharapkan dapat membantu memecahkan masalah penanggulangan HIV/AIDS belum ditemukan. Salah satu alternatif dalam upaya menanggulangi problematik jumlah penderita yang terus meningkat adalah upaya pencegahan yang dilakukan semua pihak yang mengharuskan kita untuk tidak terlibat dalam lingkungan transmisi yang memungkinkan dapat terserang HIV[2].
Epidemi HIV di Indonesia telah berlangsung 20 tahun. Sejak tahun 2000 epidemi tersebut sudah mencapai tahap terkonsentrasi pada beberapa sub-populasi berisiko tinggi (dengan prevalens > 5%), yaitu pengguna Napza suntik (penasun), wanita penjaja seks (WPS), dan waria. Situasi demikian menunjukkan bahwa pada umumnya Indonesia berada pada tahap concentrated epidemic. Situasi penularan ini disebabkan kombinasi transmisi HIV melalui penggunaan jarum suntik tidak steril dan transmisi seksual di antara populasi berisiko tinggi. Di Tanah Papua (Provinsi Papua dan Papua Barat), keadaan yang meningkat ini ternyata telah menular lebih jauh, yaitu telah terjadi penyebaran HIV melalui hubungan seksual berisiko pada masyarakat umum (dengan prevalens > 1%). Situasi di Tanah Papua menunjukkan tahapan telah mencapai generalized epidemic[14].
Epidemi HIV yang terkonsentrasi ini tergambar dari laporan Departemen Kesehatan (Depkes) tahun 2006. Sejak tahun 2000 prevalens HIV mulai konstan di atas 5% pada beberapa sub-populasi berisiko tinggi tertentu. Dari beberapa tempat sentinel, pada tahun 2006 prevalens HIV berkisar 21% – 52% pada penasun, 1%-22% pada WPS, dan 3%-17% pada waria[14].
Situasi epidemi HIV juga tercermin dari hasil Estimasi Populasi Dewasa Rawan Tertular HIV pada tahun 2006. Diperkirakan ada 4 juta sampai dengan 8 juta orang paling berisiko terinfeksi HIV dengan jumlah terbesar pada sub-populasi pelanggan penjaja seks (PPS), yang jumlahnya lebih dari 3,1 juta orang dan pasangannya sebanyak 1,8 juta. Sekalipun jumlah sub-populasinya paling besar namun kontribusi pelanggan belum sebanyak penasun dalam infeksi HIV. Gambaran tersebut dapat dilihat dari hasil estimasi orang dengan HIV dan AIDS (ODHA) di Indonesia tahun 2006, yang jumlahnya berkisar 169.000-217.000, dimana 46% diantaranya adalah penasun sedangkan PPS (Peria Penjajah Seks)14%[12].
Prevalensi HIV-AIDS menurun dikalangan wanita hamil pendapat ini berdasarkan hasil survey di daerah perkotaan Kenya terutama di Busnia, Meru, Nakura, Thika, dimana rata-rata prevalensi HIV menurun tajam dari kira-kira 28% pada tahun 1999 menjadi 9% pada tahun 2003. Di wilayah India prevalensi secara nasional dikalangan wanita hamil masih rendah di daerah miskin padat penduduk yaitu Negara bagian utara Uttar Pradesh dan Bihar. Tetapi peningkatan angka penularan relatif kecil dapat berarti sejumlah besar orang terinfeksi karena wilayah tersebut dihuni oleh seperempat dari seluruh populasi India. Prevalensi HIV lebih dari 1% ditemukan dikalangan wanita hamil, di wilayah industri di bagian barat dan selatan India[12].
            Namun data terbaru dari Afrika Selatan memperlihatkan bahwa prevalensi HIV dikalangan wanita hamil saat ini telah mencapai angka tertinggi, yaitu 29,5% dari seluruh wanita yang mengunjungi  klinik bersalin yang positif terinfeksi HIV ditahun 2004. Prevalensi tertinggi adalah dikalangan wanita usia 25-34 tahun atau lebih yaitu satu dari tiga wanita yang diperkirakan akan terinfeksi HIV. Tingkat prevalensi yang tertinggi melebihi 30% dikalangan wanita hamil masih terjadi juga pada empat Negara lain di wilayah Botswana, Lesotho, Nambia dan Swaziland[10].

      2.3  Etiologi
Penyebab AIDS adalah sejenis virus yang tergolong Retrovirus yang disebut Human Immunodeficiency Virus (HIV). Virus ini pertama kali diisolasi oleh Montagnier dan kawan-kawan di Prancis pada tahun 1983 dengan nama Lymphadenopathy Associated Virus (LAV), sedangkan Gallo di Amerika Serikat pada tahun 1984 mengisolasi (HIV) III. Kemudian atas kesepakatan internasional pada tahun 1986 nama firus dirubah menjadi HIV[3].
Muman Immunodeficiency Virus adalah sejenis Retrovirus RNA. Dalam bentuknya yang asli merupakan partikel yang inert, tidak dapat berkembang atau melukai sampai ia masuk ke sel target. Sel target virus ini terutama sel Lymfosit T, karena ia mempunyai reseptor untuk virus HIV yang disebut CD-4. Didalam sel Lymfosit T, virus dapat berkembang dan seperti retrovirus yang lain, dapat tetap hidup lama dalam sel dengan keadaan inaktif. Walaupun demikian virus dalam tubuh pengidap HIV selalu dianggap infectious yang setiap saat dapat aktif dan dapat ditularkan selama hidup penderita tersebut[3].
`           Secara mortologis HIV terdiri atas 2 bagian besar yaitu bagian inti (core) dan bagian selubung (envelop). Bagian inti berbentuk silindris tersusun atas dua untaian RNA (Ribonucleic Acid). Enzim reverce transcriptase dan beberapa jenis prosein. Bagian selubung terdiri atas lipid dan glikoprotein (gp 41 dan gp 120). Gp 120 berhubungan dengan reseptor Lymfosit (T4) yang rentan. Karena bagian luar virus (lemak) tidak tahan panas, bahan kimia, maka HIV termasuk virus sensitif terhadap pengaruh lingkungan seperti air mendidih, sinar matahari dan mudah dimatikan dengan berbagai disinfektan seperti eter, aseton, alkohol, jodium hipoklorit dan sebagainya, tetapi telatif resisten terhadap radiasi dan sinar utraviolet[3].
Virus HIV hidup dalam darah, saliva, semen, air mata dan mudah mati diluar tubuh. HIV dapat juga ditemukan dalam sel monosit, makrotag dan sel glia jaringan otak[3].

2.4  Pathogenesis
HIV merupakan retrovirus yang ditransmisikan dalam darah, sperma, cairan vagina, dan ASI. Cara penularan telah dikenal sejak 1980-an dan tidak berubah yaitu secara; seksual hubungan seksual, kontak dengan darah atau produk darah, eksposur perinatal, dan menyusui. HIV muncul sebagai epidemic global pada akhir tahun 1970. Pada tahun 2007 diperkirakan 33 juta orang diseluruh dunia hidup dengan HIV, 2 juta orang meninggal dari komplikasi AIDS, dan 15 juta anak-anak menjadi yatim piatu akibat kehilangan salah satu atau kedua orang tua mereka karena AIDS[6].
Secara umum ada 5 faktor yang perlu diperhatikan pada penularan suatu penyakit yaitu sumber infeksi, vehikulum yang membawa agent, host yang rentan, tempat keluar kuman dan tempat masuk kuman (port’d entrée)[3].
Transmisi human immunodefiency virus (HIV) terjadi terutama melalui pertukaran cairan tubuh (misalnya darah, semen, peristiwa perinatal). Depresi berat pada sistem imun selular menandai sindrom immunodefiensi didapat (AIDS). Walaupu populasi berisiko tinggi telah didokumentasi dengan baik,semua wanita harus dikaji untuk mengetahui[16].
            Begitu HIV memasuki tubuh, serum HIV menjadi positif dalam 10 minggu pertama pemaparan. Walaupun perubahan serum secara total asimptomatik, perubahan ini disertai viremia, respons tipe-influenza terhadap infeksi HIV awal. Gejala meliputi demam, malaise, mialgia, mual, diare, nyeri tenggorok, dan ruam dan dapat menetap selama dua sampai tiga minggu[16].
Virus HIV sampai saat ini terbukti hanya menyerang sel Lymfosit T dan sel otak sebagai organ sasarannya. Virus HIV sangat lemah dan mudah mati diluar tubuh. Sebagai vehikulum yang dapat membawa virus HIV keluar tubuh dan menularkan kepada orang lain adalah berbagai cairan tubuh. Cairan tubuh yang terbukti menularkan diantaranya semen, cairan vagina atau servik dan darah penderita[3].
Banyak cara yang diduga menjadi cara penularan virus HIV, namun hingga kini cara penularan HIV yang diketahui adalah melalui[3]:
1. Transmisi Seksual
           Penularan melalui hubungan seksual baik Homoseksual maupun Heteroseksual merupakan penularan infeksi HIV yang paling sering terjadi. Penularan ini berhubungan dengan semen dan cairan vagina atau serik. Infeksi dapat ditularkan dari setiap pengidap infeksi HIV kepada pasangan seksnya. Resiko penularan HIV tergantung pada pemilihan pasangan seks, jumlah pasangan seks dan jenis hubungan seks. Pada penelitian Darrow (1985) ditemukan resiko seropositive untuk zat anti terhadap HIV cenderung naik pada hubungan seksual yang dilakukan pada pasangan tidak tetap. Orang yang sering berhubungan seksual dengan berganti pasangan merupakan kelompok manusia yang berisiko tinggi terinfeksi virus HIV.
a.      Homoseksual
            Didunia barat, Amerika Serikat dan Eropa tingkat promiskuitas homoseksual menderita AIDS, berumur antara 20-40 tahun dari semua golongan rusial.
Cara hubungan seksual anogenetal merupakan perilaku seksual dengan resiko tinggi bagi penularan HIV, khususnya bagi mitra seksual yang pasif menerima ejakulasi semen dari seseorang pengidap HIV. Hal ini sehubungan dengan mukosa rektum yang sangat tipis dan mudah sekali mengalami pertukaran pada saat berhubungan secara anogenital.
      b.      Heteroseksual
            Di Afrika dan Asia Tenggara cara penularan utama melalui hubungan heteroseksual pada promiskuitas dan penderita terbanyak adalah kelompok umur seksual aktif baik pria maupun wanita yang mempunyai banyak pasangan dan berganti-ganti.
2. Transmisi Non Seksua
 a. Transmisi Parenral
-    Yaitu akibat penggunaan jarum suntik dan alat tusuk lainnya (alat tindik) yang telah terkontaminasi, misalnya pada penyalah gunaan narkotik suntik yang menggunakan jarum suntik yang tercemar secara bersama-sama. Disamping dapat juga terjadi melaui jarum suntik yang dipakai oleh petugas kesehatan tanpa disterilkan terlebih dahulu. Resiko tertular cara transmisi parental ini kurang dari 1%.
-   Darah/Produk Darah
Transmisi melalui transfusi atau produk darah terjadi di negara-negara barat sebelum tahun 1985. Sesudah tahun 1985 transmisi melalui jalur ini di negara barat sangat jarang, karena darah donor telah diperiksa sebelum ditransfusikan. Resiko tertular infeksi/HIV lewat trasfusi darah adalah lebih dari 90%.
     b.   Transmisi Transplasental
Penularan dari ibu yang mengandung HIV positif ke anak mempunyai resiko sebesar 50%. Penularan dapat terjadi sewaktu hamil, melahirkan dan sewaktu menyusui. Penularan melalui air susu ibu termasuk penularan dengan resiko rendah.

PENULARAN HIV DARI WANITA KEPADA BAYINYA
Penularan HIV ke ibu bisa akibat hubungan seksual yang tidak aman (biseksual atau hommoseksual), pemakaian narkoba injeksi dengan jarum bergantian bersama  penggidap HIV, tertular melalui darah dan produk darah, penggunaan alat kesehatan yang tidak steril, serta alat untuk menorah kulit. Menurut CDC penyebab terjadinya infeksi HIV pada wanita secara berurutan dari yang terbesar adalah pemakaian obat terlarang melalui injeksi 51%, wanita heteroseksual 34%, dtransfusi darah 8%, dan tidak diketahui sebanyak 7%[17].
Cara penularan virus HIV-AIDS pada wanita hamil dapat melalui hubungan seksual. Salah seorang peneliti mengemukakan bahwa penularan dari suami yang terinfeksi HIV ke isterinya sejumlah 22% dan isteri yang terinfeksi HIV ke suaminya sejumlah 8%. Namun penelitian ain mendapatkan serokonversi (dari pemeriksaan laboratorium negatif menjadi positif) dalam 1-3 tahun dimana didapatkan 42% dari suami dan 38% dari isteri ke suami dianggap sama[10].
            Penularan HIV dari ibu ke bayi dan anak bisa melalui darah, penularan melalui hubungan seks. Penularan dari ibu ke anak karena wanita yang menderita HIV atau AIDS sebagian besar (85%) berusia subur (15-44 tahun) sehingga terdapat resiko penularan infeksi yang bisa terjadi saat kehamilan (in utero). Berdasarkan laporan CDC Amerika prevalensi penularan HIV dari ibu ke bayi adalah 0,01 % sampai 0,7%. Bila ibu baru terinfeksi HIv dan belum ada gejala AIDS kemungkinan bayi terinfeksi sebanyak 20-35%, sedangkan kalau gejala AIDS sudah jelas pada ibu kemungkinannya mencapai 50%[17].
            Penularan juga terjadi pada proses persalinan melalui transfuse fetomaternal atau kontak antara kulit atau membrane mukosa bayi dan darah atau sekresi maternal saat melahirkan. Semakin lama proses persalinan semakin besar resiko, sehingga lama persalinan bisa dicegah dengan operasi section caesarea. Transmisi lain terjadi selama periode post partum melalui ASI, resiko bayi tertular melalui ASI dari ibu yang positif sekitar 10%[17].
Kasus HIV-AIDS disebabkan oleh heteroseksual. Virus ini hanya dapat ditularkanmelalui kontak langsung dengandarah, semen, dan sekret vagina. Dan sebagian besar (75%) penularan terjadi melalui hubungan seksual. HIV tergolong netrovirus yang memiliki materi genetik RNA. Bilamana virus masuk kedalam tubuh penderita (sel hospes), maka RNA diubah menjadi DNA oleh enzim reverse transcriptase. DNA provirus tersebut diintegrasikan kedalam sel hospes dan selanjutnya diprogramkan untuk membentuk gen virus[10].
            Penularan secara vertikal dapat terjadi setiap waktu selama kehamilan atau pada periode intrapartum atau postpartum. HIV ditemukan pada jaringan fetal yang berusia 12 dan 24 minggu dan terinfeksi intrauterin sejumlah 30-50% yang penularan secara vertikal terjadi sebelum persalinan, serta 65% penularan terjadi saat intrapartum. Pembukaan serviks, vagina, sekresi serviks dan darah ibu meningkatkan risiko penularan selama persalinan. Lingkungan biologis, dan adanya riwayat ulkus genitalis, herpes simpleks, dan SST (Serum Test for Syphilis) yang positif meningkatkan prevalensi infeksi HIV karena adanya luka-luka merupakan tempat masuknya HIV. Sel-sel limfosit T4/CD4 yang mempunyai reseptor untuk menangkap HIV akan aktif mencari luka-luka tersebut dan selanjutnya memasukkan HIV tersebut ke dalam peredaran darah[10].
            Perubahan anatomi dan fisiologi maternal berdampak pula pada perubahan uterus, serviks dan vagina, dimana terjadi hepertropi sel otot oleh karena meningkatnya elastisitas dan penumpukan jaringan fibrous, yang menghasilkan vaskularisasi, kongesti, udem pada trimester pertama, keadaan ini mempermudah erosi ataupun lecet pada saat hubungan seksual. Keadaan ini juga merupakan media untuk masuknya HIV. Penularan HIV yang paling sering terjadi antara pasangan yang salah satunya sudah terinfeksi HIV mendekati 20% setelah melakukan hubungan seksual dengan tidak menggunakan kondom[10].
            Peneliti lain mengemukakan faktor yang dapat meningkatkan penularan HIV heteroseksual dengan tidak menggunakan kondom pada saat melakukan hubungan seksual dengan pasangan yang memiliki lesi pada organ vital, yang disebabkan oleh infeksi sifilis atau herpes simpleks, meningkatkan transfer virus melalui lesi sehingga terjadi kerusakan membran mukosa dan merangsang limfosit CD4 untuk bergabung dengan jaringan yang mengalami inflamasi[10].

PERIODE PRENATAL
Insiden HIV pada wanita hamil diperkirakan meningkat (ACOG, 1992a). Riwayat kesehatan, pemeriksaan fisik, dan pemeeriksaan laboratorium harus meregleksikan perkiraan ini jika wanita dan bayi baru lahir akan menerima perawatan yang tepat. Individu yang berada pada kategori infeksi HIV meliputi[16]:
1.       wanita dan pasangan dari daerah geografi tempat HIV umum terjadi;
      2.       wanita dan pasangan yang menggunakan obat-obatan intravena;
      3.       wanita dengan PMS persisten dan PMS rekuren;
      4.       wanita yang menerima transfuse darah antara tahun 1987 dan 1985;
      5.      setiap wanita yang yakin bahwa ia mungkin terpapar HIV.
Informasi tentang HIV dan ketersediaan pemeriksaan HIV harus ditawarkan kepada wanita berisiko tinggi pada saat pertama kali mereka dating ke perawatan prenatal. Hasil negative pada pemeriksaan HIV prenatal pertama bukan suatu garansi bahwa titer selanjutnya akan negative[16].
Pemeriksaan prenatal juga dapat menunjukkan adanya gonrorea, C. trachomatis, hepatitis B, Micobacterium tuberculosis, kandidiasis (infeksi orofaring atau infeksi vaginal kronis), sitomegalovirus (CMV), dan toksoplasmosis. Sekitar setengah jumlah penderita AIDS mengalami peningkatan titer[16].
Beberapa ketidaknyamanan prenatal (mis., keletihan, anoreksia, dan penurunan berat badan. Menyerupai tanda dan gejala infeksi HIV. Diagnosis banding semua keluhan akibat kehamilan dan gejala infeksi dibenarkan. Tanda-tanda utama perburukan infeksi HIV meliputi penurunan berat badan, lebih dari 10% berat badan sebelum hamil, diare kronis selama lebih dari satu bulan, dan demam (intermiten atau konstan) selama lebih dari satu bulan[16].
 Untuk menyokong sistem imun wanita hamil, konseling diberikan, mencakup nutrisi optimum, tidur, istirahat, latihan fisik, dan reduksi stress. Apabila infeksi HIV didiagnosis, wanita diberi penjelasan tentang teknik berhubungan seksual yang lebih aman. Penggunaan kondom dan spermisida 9 non-oksinol dianjurkan untuk meminimalkan pemaparan HIV lebih jauh jika pasangan wanita tersebut merupakan sumber infeksi. Hubungan seksual orogenital tidak dianjurkan. Hal yang sama penting ialah merujuk wanita tersebut menjalani rehabilitasi untuk menghentikan penyalahgunaan substansi. Penyalahgunaan alcohol atau obat-obatan lain mengganggu sistem imun tubuh dan meningkatkan risiko AIDS dan kondisi terkait[16]:
      1.      sistem imun tubuh harus rusak dulu sebelum HIV dapat menimbulkan penyakit
      2.      alcohol dan obat-obatan mengganggu banyak terapi medis dan terapi alternatif untuk AIDS
      3.      dan obat-obatan mempengaruhi pertimbangan pengguna yang menjadi lebih cenderung terlibat dalam aktivitas yang membuatnya berisiko mengidap AIDS aatau meningkatkan pemaparan terhadap HIV
      4.      alcohol dan penyalahgunaan obat menyebabkan stress, termasuk masalah tidur, yang  membahayakan fungsi sistem imun.
Terapi farmakologi untuk infeksi HIV berkembang dengan pesat sejak virus tersebut ditemukan. Obat primer yang disetujui untuk terapi infeksi HIV adalah 3’azido-3’-deoksitimidin (zidovudin, AZT [Retrivirl]). Walaupun obat ini menjanjikan hasil yang baik bagi terapi infeksi HIV, penggunaannya dalam kehamilan dibatasi karena adanya potensi efek mutagenic atau toksik potensial pada janin. Azitomidin saat ini dipelajari pada beberapa penelitian terkendali pada wanita hamil, yang memiliki hitung sel T-helper kurang dari 400 sel/mm3 dan terbukti secara signifikan mengurangi risiko transmisi HIV dari wanita terinfeksi ke janinnya[16].

PERIODE INTRAPARTUM
            Perawatan wanita bersalin tidak secara sustansial berubah karena infeksi asimptomatik HIV. Model kelahiran yang akan dilakukan didasarkan hanya pada pertimbangan obstetric karena virus menembus plasenta pada tahap awal kehamilan[16].
            Focus utama adalah mencegah persebaran nosokomial HIV dan melindungi tenaga keperawatan kesehatan. Risiko tranmisi HIV dianggap rendah selama proses kelahiran per vaginam terlepas dari kenyataan bahwa bayi terpapar pada darah, cairan amniotic, dan sekresi vagina ibunya[16].
            Pemantauan janin secara elektronik dan eksternal lebih dipilih jika pemantauan diperlukan. Ada kemungkinan inokulasi virus ke neonates jika pengambilan sampel darah dilakukan pada kulit kepala janin atau elektroda dipasang pada kulit kepala janin. Selain itu, individu yang melakukan salah satu prosedur ini berisiko tertusuk jarum pada jarinya[16].

PERIODE PASCAPARTUM
            Hanya sedikit diketahui tentang kondisi klinis wanita yang terinfeksi HIV selama periode pascapartum. Walaupun periode pascapartum awal tidak signifikan, follow-up yang lebih lama menunjukkan frekuensi penyakit klinis yang tinggi pada ibu yang anaknya menderita penyakit. Konseling tentang pengalihan pengasuhan anak dibutuhkan jika orang tua tidak lagi mampu merawat diri mereka[16].
            Terlepas dari apakah infeksi terdiagnosis, roses keperawatan diterapkan dengan cara yang peka terhadap latar belakang budaya individu dan dengan menjunjung nilai kemanusiaan. Infeksi HIV merupakan suatu peristiwa biologi, bukan suatu komentarmoral. Sangat penting untuk diingat, ditiru, dan diajarkan bahwa reaksi (pribadi) terhadap gaya hidup, praktik, atau perilaku tidak boleh mempengaruhi kemampuan perawat dalam member perawatan kesehatan yang efektif, penuh kasih sayang, dan obyektif kepada semua individu[16].
            Bayi baru lahir dapat bersama ibunya, tetapi tidak boleh disusui. Tindakan kewaspadaan universal harus diterapkan, baaik untuk ibu maupun bayinya, sebagaimana yang dilakukan pada semua pasien. Wanita dan bayinya dirujuk ke tenaga kesehatan yang berpengalaman dalam terapi AIDS dan kondisi terkait[16].

2.5 Manifestasi Klinis
Gejala dari infeksi akut HIV terjadi sekitar 50% kepada seseorang yang baru terinfeksi. Gejala yang ditimbulkan adalah[6]:
       ·         Demam
       ·         Malaise
       ·         Ruam
       ·         Myalgia
       ·         Sakit kepala
       ·         Meningitis
       ·         Kehilangan napsu makan
       ·         Berkeringat
Adapun gejala infeksi HIV kronis sebagai berikut[6]:
       ·         Infeksi bakteri berulang
       ·         Candidiasis di saluran bronkus, trachea, paru dan esophagus
       ·         Herpes simpleks kronis
       ·         Kaposi sarcoma (proliferasi vaskuler neoplastik ganas yang multi sentrik dan ditandai dengan nodul-nodul kutan berwarna merah kebiruan, biasanya pada pada ekstremitas bawah yang ukuran dan jumlahnya membesar dan menyebar ke daerah yang lebih proksimal)
       ·         Pneumoncystis
       ·         Wasting syndrome
Gejala infeksi HIV pada wanita hamil, uumnya sma dengan wanita tidak hamil atau orang dewasa. infeksi HIV memberikan gambaran klinis yang tidak spesifik dengan spectrum yang lebar, mulai dari infeksi tanpa gejala (asimtomatik) pada stadium awal sampai pada gejala-gejala yang berat pada stadium yang lebih lanjut. Perjalanan penyakit lambat dan gejala-gejala AIDS rata-rata baru timbl 10 tahun sesudah infeksi, bahkan dapat lebih lama lagi[15].
            Banyak orang yang terinfeksi HIV tidak menunjukkan gejala apapun. mereka merasa sehat dan juga dari luar Nampak sehat-sehat saja. Namun orang yang terinfeksi HIV akan menjadi pembawa dan penular HIV kepada orang lain[15].
            Kelompok orang-orang HIV tanpa gejala dapat dibagi menjadi dua kelompok yaitu[15]:
       1.      kelompok yang sudah terinfeksi HIV, tetapi tanpa gejala dan tes darahnya negatif. pada tahap dini ini antibody terhadap HIV belum terbentuk. Waktu antara masuknya HIV disebut window period yang memerlukan waktu antara 15 hari sampai 3 bulan setelah terinfeksi HIV.
       2.      kelompok yang sudah terinfeksi HIV, tanpa gejala tetapi tes darah positif. Keadaan tanpa gejala ini dapat berlangsung lama sampai 5 tahun atau lebih.
CDC (Center for Disease Control, USA, 1986) menetapkan klasifikasi infeksi HIV pada orang dewasa sebagai berikut[6]:
       ·         Kelompok I: infeksi akut
       ·         Kelompok II: infeksi asimptomatik
       ·         Kelompk III: Infeksi Limpadenopati Generalisata Persisten (LGP)
       ·         Kelompok IV: penyakit-penyakit lain.

       2.6  Pemeriksaan Diagnostik
`Tes-tes saat ini tidak membedakan antara antibody ibu/bayi, dan bayi dapat menunjukkan tes negative pada usia 9 sampai 15 bulan. Penelitian mencoba mengembangkan prosedur siap pakai yang tidak mahal untuk membedakan respons antibody bayi vs.ibu[18]:
       ·         Hitung darah lengkap (HDL) dan jumlah limfosit total: Bukan diagnostic pada bayi baru lahir tetapi memberikan data dasar imunologis.
       ·         EIA atau ELISA dan tes Western Blot: Mungkin positif, tetapi invalid
       ·         Kultur HIV (dengan sel mononuclear darah perifer dan, bila tersedia, plasma).
       ·         Tes reaksi rantai polymerase dengan leukosit darah perifer: Mendeteksi DNA viral pada adanya kuantitas kecil dari sel mononuclear perifer terinfeksi.
       ·         Antigen p24 serum atau plasma: peningkatan nilai kuantitatif dapat menjadi indikatif dari kemajuan infeksi (mungkin tidak dapat dideteksi pada tahap sanagt awal infeksi HIV)
      ·         Penentuan immunoglobulin G, M, dan A serum kualitatif (IgG, IgN, dan IgA): Bukan diagnostic pada bayi baru lahir tetapi memberikan data dasar imunoogis.


Diagnosis pada Bayi dan Anak
Bayi yang tertular HIV dari ibu bisa saja tampak normal secara klinis selama periode neonatal. Penyakit penanda AIDS tersering yang ditemukan pada anak adalah pneumonia yang disebabkan Pneumocystis carinii. Gejala umum yang ditemukan pada bayi dengan ifeksi HIV adalah gangguan tumbuh kembang, kandidiasis oral, diare kronis, atau hepatosplenomegali (pembesaran hapar dan lien)[17].
            Karena antibody ibu bisa dideteksi pada bayi sampai bayi berusia 18 bulan, maka tes ELISA dan Western Blot akan positif meskipun bayi tidak terinfeksi HIV karena tes  ini berdasarkan ada atau tidaknya antibody terhadap virus HIV. Tes paling spesifik untuk mengidentifikasi HIV adalah PCR pada dua saat yang berlainan. DNA PCR pertama diambil saat bayi berusia 1 bulan karena tes ini kurang sensitive selama periode satu bulan setelah lahir. CDC merekomendasikan pemeriksaan DNA PCR setidaknya diulang pada saat bayi berusia empat bulan. Jika tes ini negative, maka bayi terinfeksi HIV. Tetapi bila bayi tersebut mendapatkan ASI, maka bayi resiko tertular HIV sehingga tes PCR perlu diulang setelah bayi disapih. Pada usia 18 bulan, pemeiksaan ELISA bisa dilakukan pada bayi bila tidak tersedia sarana pemeriksaan yang lain[17].
            Anak-anak berusia lebih dari 18 bulan bisa didiagnosis dengan menggunakan kombinasi antara gejala klinis dan pemeriksaan laboratorium. Anak dengan HIV sering mengalami infeksi bakteri kumat-kumatan, gagal tumbuh atau wasting, limfadenopati menetap, keterlambatan berkembang, sariawan pada mulut dan faring. Anak usia lebih dari 18 bulan bisa didiagnosis dengan ELISA dan tes konfirmasi lain seperti pada dewasa. Terdapat dua klasifikasi yang bisa digunakan untuk mendiagnosis bayi dan anak dengan HIV yaitu menurut CDC dan WHO[17].
            CDC mengembangkan klasifikasi HIV pada bayi dan anak berdasarkan hitung limfosit CD4+ dan manifestasi klinis penyakit. Pasien dikategorikan berdasarkan derajat imunosupresi (1, 2, atau 3) dan kategori klinis (N, A, B, C, E). Klasifikasi ini memungkinkan adanya surveilans serta perawatan pasien yang lebih baik. Klasifikasi klinis dan imunologis ini bersifat eksklusif, sekali pasien diklasifikasikan dalam suatu kategori, maka diklasifikasi ini tidak berubah walaupun terjadi perbaikanstatus karena pemberian terapi atau factor lain[17].
            Menurut Depkes RI (2003), WHO mencanangkan empat strategi untuk mencegah penularan HIV dari ibu ke anak dan anak, yaitu dengan mencegah jangan sampai wanita terinfeksi HIV/AIDS, apabila sudah dengan HIV/AIDS dicegah supaya tidak hamil, apabila sudah hamil dilakukan pencegahan supaya tidak menular pada bayi dan anaknya, namun bila ibu dan anak sudah terinfeksi maka sebaiknya diberikan dukungan dan perawatan bagi ODHA dan keluarga[17].
Uji HIV pada Wanita Hamil
CDC telah merekomendasikan skrining rutin HIV secara suka rela pada ibu hamil sejak tahun 2001. Banyak dokter telah mengadopsi kebijakan universal opt-out skrining HIV (yang berarti bahwa pengujian adalah otomatis kecuali jika wanita secara khusus memilih untuk tidak di uji) pada wanita  hamil selama tes kehamilan rutin dan telah dieliminasi persyaratan untuk konseling sebelum uji dilakukan dan persetujuan tertulis untuk tes HIV. Penelitian dianalisis oleh Angkatan US Preventive Services Task mengungkapkan bahwa pada tahun 1995 tingkat tes HIV di antara wanita hamil di Amerika Serikat adalah 41% 9 (dianjurkan dilakukan tes universal pada tahun pertama kehamilan) dan meningkat menjadi 60% pada 1998. Pada tahun 2005, di negara bagian dan provinsi Kanada yang telah menerapkan pengujian "opt-out", angka tes HIV di antara perempuan hamil berkisar antara 71% sampai 98%, dibandingkan dengan 15% menjadi 83% dalam keadaan dan provinsi yang memiliki Kebijakan “opt-in” yang membutuhkan seorang wanita untuk secara khusus meminta tes HIV[6].
            Identifikasi dini pada wanita hamil memungkinkan untuk pemberian pengobatan terapi antiretroviral untuk mendukung kesehatan dan mengurangi risiko penularan bayinya. Tes HIV direkomendasikan Tes HIV direkomendasikan untuk semua wanita hamil pada kunjungan prenatal pertama. Tes HIV kedua, selama trimester ketiga sebelum 36 minggu kehamilan, juga dianjurkan bagi wanita yang berisiko, tinggal di daerah prevalensi HIV tinggi, atau memiliki tanda-tanda atau gejala yang konsisten dengan infeksi HIV akut[6].
Jika seorang wanita yang berstatus HIV belum didokumentasikan ketika dia tiba saat persalinan dan melahirkan, tes cepat HIV harus ditawarkan. Jika hasil tes awal positif, segera inisiasi ARV profilaksis yang tepat intravena harus direkomendasikan tanpa menunggu konfirmasi hasil. Jika wanita menolak pengujian, bayi baru lahir harus menerima pengujian cepat sesegera mungkin setelah lahir sehingga profilaksis antiretroviral dapat ditawarkan jika terdapat indikasi[6].


       2.7  Penatalaksanaan
Pengalaman program yang signifikan dan bukti riset tentang HIV dan pemberian makanan untuk bayi telah dikumpulkan sejak rekomendasi WHO untuk pemberian  makanan bayi dalam konteks HIV terakhir kali direvisi pada tahun 2006. Secara khusus, telah dilaporkan bahwaantiretroviral (ARV) intervensi baik ibu yang terinfeksi HIV atau janin yang terpapar HIVsecara signifikan dapat  mengurangi risiko penularan HIV pasca kelahiran melalui menyusui. Bukti ini memiliki implikasi besar untuk bagaimana perempuan yang hidup dengan HIV mungkin dapat memberi makan  bayi mereka, dan bagaimana para pekerja kesehatan harus nasihati ibu-ibu ini. Bersama-sama, intervensi ASI dan ARV memiliki potensi secara signifikan untuk meningkatkan peluang bayi bertahan hidup sambil tetap tidak terinfeksi HIV[19].
Meskipun rekomendasi 2010 umumnya konsisten dengan panduan sebelumnya, mereka mengakui dampak penting dariARV selama masa menyusui, dan merekomendasikan bahwa otoritas nasional di setiap negarauntuk memutuskan praktik pemberian makan bayi, seperti menyusui yaitu dengan intervensi ARVuntuk mengurangi transmisi atau menghindari menyusui, harus dipromosikan dan didukung oleh layanan Kesehatan Ibu dan Anak mereka. Hal ini berbeda dengan rekomendasi sebelumnya di mana petugas kesehatan diharapkan untuk memberikan  nasihat secara individual kepada semua ibu yang terinfeksi HIV tentang berbagai macam pilihan pemberian  makanan  bayi, dan kemudian ibu-ibu dapat memilih cara untuk pemberian makanan bayinya[19]. 
Dimana otoritas nasional mempromosikan  pemberian ASI dan ARV, ibu yang diketahui terinfeksi HIV sekarang direkomendasikan untuk menyusui bayi mereka setidaknya  sampai usia 12 bulan. Rekomendasi bahwa makanan pengganti tidak boleh digunakan kecuali jikadapat diterima, layak, terjangkau, berkelanjutan dan aman (AFASS) [19].
Pemberian antiretroviral bertujuan agar viral load rendah sehingga jumlah virus yang ada dalam darah dan cairan tubuh kurang efektif untuk menularkan HIV. Obat yang bisa dipilih untuk negara berkembang adalah Nevirapine, pada saat ibu saat persalinan diberikan 200mg dosis tunggal, sedangka bayi bisa diberikan 2mg/kgBB/72 jam pertama setelah lahir dosis tunggal. Obat lain yang bisa dipilih adalah AZT yang diberikan mulai kehamilan 36 minggu 2x300mg/hari dan 300mg setiap jam selama persalinan berlangsung [17].

Intervensi Terapetik Antiretrovirus
Terapi yang sekarang berlaku menghadapi masalah membidik berbagai harapan dalam  proses masuknya virus ke dalam sel dan replikasi virus, memanipulasi gen virus untuk mengendalikan produksi protein virus, membangun kembali sistem imun, mengkombinasikan  terapi, dan mencegah resistensi obat. Dua pemeriksaan laboratorium, hitung sel T CD4+ dan kadar RNA HIV serum, digunakan sebagai alat untuk memantau risiko perkembangan penyakit dan menentukan waktu yang tepat untuk memulai atau memodifikasi regimen obat. Hitung sel T CD4+ memberikan informasi mengenai status imunologik pasien yang sekarang, sedangkan kadar RNA HIV serum (viral load) memperkirakan prognosis klinis (status hitung sel T CD4+ dalam waktu dekat). Hitung RNA HIV sebesar 20.000 salinan/ml (2x104) dianggap oleh banyak pakar sebagai indikasi untuk memberikan terapi antiretrovirus berapa pun hasil hitung sel T CD4+. Pengukuran serial kadar RNA HIV dan sel T CD4+ serum sangat bermanfaat untuk mengetahui laju perkembangan penyakit, angka pergantian virus, hubungan antara pengaktivasian sistem imun dan replikasi virus, dan saat terjadinya resistensi obat antiretrovirus disebabkan oleh penurunan kadar RNA HIV[20].
Tujuan utama terapi antivirus adalah penekanan secara maksimum dan berkelanjutan jumlah virus, pemulihan atau pemeliharaan (atau keduanya) fungsi imunologik, perbaikan kualitas hidup, dan pengurangan morbiditas an mortalitas HIV[20].
Prinsip pengobatan untuk infeksi HIV[20]
       1.      replikasi HIV yang berlangsung terus menerus menyebabkan sistem imun rusak dan berkembang menjadi AIDS. Infeksi HIV selalu merugikan dan kesintasan jangka-panjang sejati yang bebas dan disfungsi sistem imun sagat jarang terjadi.
       2.      Kadar RNA HIV dalam plasma menunjukkan besarnya replikasi HIV dan berkaitan dengan laju destruksi limfosit T CD4+ untuk yang terinfeksi oleh HIV, perlu dilakukan pengukuran periodik berkala kadar RNA HIV plasma dan hitung sel T CD4+ untuk menentukan factor risiko perkembangan penyakit serta mengetahui saat yang tepat untuk memulali atau memodifikasi regimen terapi antiretrovirus
       3.      Karena laju perkembangan penyakit berbeda diantara orang-orang yang terinfeksi HIV, maka keputusan tentang pengobatan harus disesuaikan orang per orang berdasarkan tingkat risiko yang ditunjukkan oleh kadar RNA HIV plasma dan hitung sel T CD4+.
       4.      Pemakaian terapi antiretrovirus kombinasi yang poten untuk menekan replikasi HIV dibawah kadar yang dapat dideteksi oleh pemeriksaan-pemeriksaan RNA HIV plasma yang sensitive akan membatasi kemungkinan munculnya varian-varian HIV resisten-penyakit. Karena itu, tujuan terapi seyogyanya adalah penekanan replikasi HIV semaksimal yang dapat dicapai.
       5.      Cara paling efektif untuk menekan replikasi virus dalam jangka panjang lama dalah pemberian secara simultan kombinasi obat-obat anti-HIV yang efektif yang belum pernah diterima oleh pasien dan tidak memperlihatkan resistensi silang dengan obat antiretrovirus yang pernag diterima oleh pasien.
       6.      Setiap obat antiretrovirus yang digunakan dalam regimen terapi kombinasi harus selalu dipakai sesuai jadwal dan dosis yang optimal.
       7.      Jumlah dan mekanisme kerja obat-obat antiretrovirus efektif yang tersedia masih terbatas, karena telah terbukti adanya resistensi-silang di antara obat-obat spesifik. Karena itu, setiap perubahan dalam terapi antiretrovirus meningkatkan pembatasan-pembatasan terapetik di masa mendatang.
       8.      Perempuan harus mendapat terapi antiretrovirus yang oprimal, tanpa memandang status kehamilan.
       9.      Prinsip terapi antiretrovirus yang sama juga berlaku pada anak, remaja dan dewasa yang terinfeksi HIV, walaupun terapi pada anak yang terinfeksi oleh HIV memerlukan pertimbangan farmakologik, virologik, dan imunologik tersendiri.
      10.  Individu yang terdeteksi pada infeksi HIV akut harus diterapi dengan terapi antiretrovirus kombinasi untuk menekan replikasi virus sampai ke kadar batas deteksi pemeriksaan –pemeriksaan RNA HIV plasma sensitive.
      11.  Individu yang terinfeksi oleh HIV, walaupun dengan kadar virus yang dibawah batas yang dapat dideteksi, harus terap dianggap menular. Dengan demikian, para pasien harus diberi penyuluhan untuk menghindari perilaku seksual dan penyalahgunaan obat yang berkaitan dengan penularan atau akuisisi HIV dan pathogen menular lainnya.

Tabel 1. Rekomendasi untuk pengobatan antiretroviral infeksi HIV selama kehamilan[21]

Rekomendasi
Kelas Obat
NRTI
NNRTI
Protease inhibitor
Entry inhibitor
Integrase inhibitor
Direkomendasikan
Zidovudine, lamividine
Nevirapinea
Lopinavir/ritonavir
...
...
Agen Pengganti
Didanosine,b emtricitabine, stavudine,b abacavir
...
Indinavir, ritonavil, saquinavir hard gel capsule, nelvinafire
...
...
Ketidakcukupan Data
Tenofovir
...
Atazanavir, darunavir, fosamprenavir, tipranavir
Enfuvirtide, maraviroc
Raltegravir
Tidak Direkomendasikan
...
Efavirenz, delavirdine
...
...
...
Catatan. NNRTI, nonnukleoside reverse-transcriptase inhibitor; NRTI, nukleoside reserve-transcriptase inhibitor.
a    Sebaiknya hanya digunakan pada wanita dengan jumlah sel CD4 > 250sel/mm3 jika manfaatnya lebih banyak dari pada risiko yang berhubungan dengan hepatotoxicity.
b    Didanosine dan stavudine sebaiknya tidak digunakan dalam kombinasi lainnya

Regimen Pengobatan yang Direkomendasikan dan Regimen yang Dihindari
            Obat yang direkomendasikan yaitu zidovudine (ZDV) yang menjadi bagian dari beberapa regimen untuk pengobatan wanita hamil, kecuali terdapat dokumentasi riwayat keparahan ZDV-berhubungan dengan toksisitas atau resisten. Untuk wanita yang memiliki riwayat keracunan ZDV atau resisten, regimen sebaiknya termasuk sedikitnya 1 obat antiretroviral yang melewati plasenta untuk memberikan fetus preexposure prophylaxis. Obat antiretroviral lainnya yang melewati plasenta manusia termasuk didanosine, lamivudine (3TC), tenofovir, nevirapine (NVP), dan lopinavir. Beberapa dari inhibitor protease juga memiliki variabel yang sedikit ke bagian plasenta[21].
            Ketika memilih regimen yang sesuai untuk wanita hamil, kombinasi regimen antiretroviral terdiri dari 3 obat yang direkomendasikan. Pada umumnya, prinsip pedoman pengobatan untuk wanita yang tidak hamil sebaiknya benar-benar dipertimbangkan. Harus terdapat dua kekuatan inhibitor nukleosida reverse-transkriptase dengan inhibitor nonnukleosida reverse-transkriptase atau inhibitor pratease yang cocok (tabel 1). Efavirenz pada umumnya dihindari selamas trimester pertama kehamilan karena menyangkut teratogenitas. NVP tidak direkomendasikan untuk wanita dengan jumlah sel CD4 >250 sel/mm3 karena meningkatkan risiko terjadinya ruam dan hepatotoksik. Tetapi jika si wanita telah toleransi terhadap NVP- terdiri dari regimen sebelumnya saat kehamilan, regimen ini sebaiknya dilanjutkan selama kehamilan[21].
            Kombinasi dari stavudine dan didanosine sebaiknya dihindari selama kehamilan karena berpotensi menyebabkan toksisitas mitokondrial dan asidosis laktat. Pada umumnya, monoterapi sebaiknya dihindari selama kehamilan karena berpotensi dalam menyebabkan perkembanagan resistensi antiretroviral. Pengobatan ZDV intravena intrapartum direkomendasikan untuk semua wanita yang terinfeksi HIV kecuali terdapat riwayat hipersensitif terhadap ZDV[21].
            Yang paling utama, dan mungkin sangat penting, langkah dalam mencegah MTCT merupakan uji umum HIV dari seemua wanita yang hamil untuk diidentifikasi mana yang berisiko menularkan virus untuk janinnya. Di negara berkembang, terapi kombinasi antiretroviral direkomendasikan selama masa kehamilan tanpa memperhatikan jumlah sel CD4 atau jumlah virus untuk menurunkan risiko penularan HIV kepada fetus. Jadwal operasi caesar direkomendasikan untuk wanita hamil dengan muatan plasma RNA HIV > 1000 kopi/ mL. Di United States dan negara berkembang lainnya, hindarkan pemberian air susu direkomendasikan untuk menurunkan lebih lanjut risiko penularan perinatal. Dari sumber- negara terbatas, penelitian yang sederhana dan singkat dari regimen antiretroviral juga berperan dalam mengurangi transmisi MTCT. Terapi yang optimal untuk infeksi maternal dalam kehamilan, dan perawatan untuk janin akan sukses dengan pendekatan multidisiplin untuk merawat wanita hamil yang terinfeksi HIV[21].
Keterangan untuk obat yang digunakan pada pasien HIV/AIDS[23]:
3TC (nama dagang)
Lamivudine 150 mg
Indikasi: pengobatan HIV pada dewasa dengan progresive immunodefeciency dengan atau tanpa pengobatan sebelumnya dengan antiretroviral, infeksi HIV pada anak-anak (umur 3 bulan) dengan progresif immunodefeciency dengan atau tanpa pengobatan sebelumnya dengan retrovir
Norvir (nama dagang)
Ritonavir
Indikasi: monoterapi untuk infeksi HIV.
Kontra indikasi: Hipersensitifitas
Efek samping: astenia, gangguan GI dan neurologi, termasuk mual, muntah, diare, anoreksia, nyeri abdomen, gangguan pengecapan, prestesis perifer dan sirkum oral
Dosis: kapsul/solid sehari 2 x 600mg
Reyataz (nama dagang)
Atazanavir sulfat
Indikasi: terapi untuk infeksi HIV-1 dalam kombinasi dengan obat antiretroviral lain.
Kontra indikasi: hipersensitifitas terhadapa atazanavir, kombinasi dengan midazolam, dihiroergotamin, ergotamin, ergonovin, metilergonovin, cisapride, dan pimozid.
Efek samping: skit kepala, mual, ikterus, muntah, diare, nyeri abdomen, pusing, insomnia, gangguan saraf perifer, ruam kulit.
Dosis: dewasa (pasien yang belum pernah mendapat terapi) sehari 1 x 400mg, dewasa (pasien yang sudah pernah mendapat terapi) sehari 1 x 300mg, pasien ditambah dengan ritnovir sehari 1 x 100mg + efavirenz.

Pengobatan untuk ibu hamil dengan HIV salah satunya dapat menggunakan obat anti-HIV dimana menurut penelitian dapat mencegah terjadinya transmisi virus HIV kepada janin dengan cara penggunaan sebagai berikut[23]:
·         selama kehamilan setelah trimester pertama: dengan memberikan anti-HIV sedikitnya tiga anti-HIV yang berbeda yang dikombinasikan (atripla).
·         selama labor dan persalinan: diberikan AZT (zidovudine) IV, kemudaian diberikan anti-HIV yang lain melalui mulut.
·         setelah melahirkan: diberikan cairan AZT selama 6 minggu.

2.8  Pencegahan
Penularan HIV dari ibu ke bayi bisa dicegah melalui empat cara, mulai saat hamil, saat melahirkan, dan setelah lahir yaitu[17]:
-          Penggunaan antiretroviral selama kehamilan
-          Penggunaan antiretroviral saat perasalinan dan bayi bayi yang baru dilahirkan
-          Penatalaksanan selama menyusui
Bayi dari ibu yang terinfeksi HIV memperlihatkan antibody terhadap virus tersebut hingga 10 sampai 18 bulan setelah lahir karena penyaluran IgG anti-HIV ibu menembus plasenta. Karena itu, uji terhadap serum bayi untuk mencari ada tidaknya antibodi IgG ,erupakan hal yang sia-sia, karena uji ini tidak dapat membedakan antibody bayi dari antibody ibu. Sebagian besar dari bayi ini, seiring dengan waktu, akan berhenti memperlihatkan antibody ibu dan juga tidak membentuk sendiri antibody terhadap virus, yang menunjukkan status seronegatif. Pada bayi, infeksi HIV sejati dapat diketahui melalui pemeriksaan-pemeriksaan seperti biakan virus, antigen p24, atau analisis PCR untuk RNA atau DNA virus. PCR DNA HIV adalah uji virologik yang dianjurkan karena sensitive untuk mendiagnosis infeksi HIV selama masa neonatus[20].
Selama ini, mekanisme penularan HIV dari ibu kepada janinnya masih belum diketahui pasti. Angka penularan bervariasi dari sekitar 25% pada populasi yang tidak menyusui dan tidak diobati di negara-negara industri sampai sekitar 40% pada populasi serupa di negara-negara yang sedang berkembang. Tanpa menyusui, sekitar 20% dari infeksi HIV pada bayi terjadi in utero dan 80% terjadi selama persalinan dan pelahiran. Penularan pascapartus dapat terjadi melalui kolostrum dan ASI dan diperkirakan menimbulkan tambahan risiko 15% penularan perinatal[20].
Factor ibu yang berkaitan dengan peningkatan risiko penularan mencakup penyakit ibu yang lanjut, kadar virus dalam serum yang tinggi, dan hitung sel T CD4+ yang rendah. Pada tahun 1994, studi 076 dari the Pediatric AIDS Clinical Trials Group (PACTG) membuktikan bahwa pemberian zidovudin kepada perempuan hamil yang terinfeksi HIV mengurangi penularan ibu ke bayi sebesar dua pertiga dari 25% menjadi 8%. Di Amerika Serikat, insiden AIDS yang ditularkan pada masa perinatal turun 67% dari tahun 1992 sampai 1997 akibat uji HIV ibu prenatal dan profilaksis prenatal dengan terapi zidovudin. Perempuan merupakan sekitar 20% dari kasus HIV-AIDS di Amerika Serikat. Perempuan dari kaum minoritas (Amerika Afrika dan keturunan Spanyol) lebih banyak terkena, merupakan 85% dari seluruh kasus AIDS. Selain pemberian zidovudin oral kepada ibu positif HIV selama masa hamil, tindakan-tindakan lain yang dianjurkan untuk mengurangi risiko penularan HIV ibu kepada anak antaea lain[20]:
1.      seksio sesaria sebelum tanda-tanda partus dan pecahnya ketuban (mengurangi angka penularan sebesar 50%);
2.      pemberian zidovudin intravena selama persalinan dan pelahiran;
3.      pemberian sirup zidovudin kepada bayi setelah lahir;
4.      tidak memberi ASI
Data menunjukkan bahwa perkembangan penyakit mengalami percapatan pada anak. Fase asimptomatik lebih singkat pada anak yang terjangkit virus melalui penularan vertical. Waktu median sampai awitan gejala lebih kecil pada anak, dan setelah gejala muncul, progresivitas penyakit menuju kematian dipercepat. Pada tahun 1994, CDC merevisi sistem klasfikasi untuk infeksi HIV pada anak berusia kurang dari 13 tahun. Pada sistem ini, anak yang terinfeksi diklasifikasikan menjadi kategori-kategori berdasarkan tiga parameter: status infeksi, status klinis, dan status imunologik[20]
Perjalanan infeksi HIV pada anak dan dewasa memiliki kemiripan dan perbedaan. Pada anak sering terjadi disfungsi sel B sebelum terjadi perubahan dalam jumlah limfosit CD4+. Akibat disfungsi sistem imun ini, anak rentan mengalami infeksi bakteri rekuren. Invasi oleh pathogen-patogen bakteri ini menyebabkan berbagai sindrom klinis pada anak seperti otitis media, sinusitis, infeksi saluran kemih, meningitis infeksi pernapasan, penyakit GI, dan penyakit lain[20].
            Seluruh dunia, pada 2008,diperkirakan 430.000[240.000-610.000] infeksibaru karenahuman immunodeficiency virus(HIV) terjadi pada anak-anak, yang 90% diperolehmelaluimotherto-child transmission (MTCT) HIV. Dari 430.000 infeksi baru, antara280dan 360.000.000 diperolehselama persalinan danpada periodepra-melahirkan. Dari infeksi baruyang tersisa,sebagian besardiperolehselama menyusui.Padabayi yangterjangkit HIVselama waktu persalinan, perkembangan penyakitterjadi sangat cepatdalam beberapa bulanpertama kehidupan, sering menyebabkan kematian. Untuk mengaktifkanantiretroviral(ARV) profilaksisharus diberikan kepada bayi sesegera mungkin setelah lahir, semua bayi yang memiliki status pajanan HIV harus diketahui sejak lahir[24].
            Data terbaru yang diterbitkan mengkonfirmasi manfaat kelangsungan hidup dramatis  bagi bayi yang  mulai diberikan ART sedini mungkin setelah diagnosis HIV, diperoleh dari review Organisasi Kesehatan Dunia(WHO) pedoman pengobatan pediatrik. PadaJuni 2008, pedoman baru dikeluarkan, yang merekomendasikan inisiasi ART segera pada bayi didiagnosis dengan infeksi HIV. Dalam rangka untuk mengidentifisikan bayi yang akan membutuhkan ART segera, konfirmasi awal dari infeksi HIV diperlukan. Pada November 2008, pertemuandiadakan untukmeninjaurekomendasioleh WHOuntuk pengujiandiagnostikinfeksi HIVpada bayidan anak-anak[24].

      2.9  Asuhan Keperawatan
Pengkajian dan Masalah Keperawatan
Perjalanan klinis pasien dari tahap terinfeksi HIV sampai tahap AIDS sejalan dengan penurunan derajat imunitas pasien, terutama imunitas seluler. Penurunan imunitas biasanya diikuti oleh adanya peningkatan risiko dan derajat keparahan infeksi oportunistik serta penyakit keganasan[17].
Tabel 2. Pengelompokkan masalah keperawatan pasien HIV/AIDS (menurut teori adaptasi)
Masalah Fisik
Masalah Psikis
Masalah Sosial
Masalah Ketergantungan
1.        Sistem pernapasan: dipsnea, TBC, dan pneumonia
2.        Sistem pencernaan: nausea, vomiting, diare, dysphagia, dan BB turun 10% per 3 bulan
3.        Sistem persarafan: letargi, nyeri sendi, dan enchepalopathy
4.        Sistem integument: edema yang disebabkan kaposis carkoma, lesi di kulit atau mukosa, dan alergi
5.        Lain-lain: demam dan resiko menularkan
1.      Integritas ego: perasaan tidak berdaya/putus asa
2.      Factor stress: baru/lama
3.      Respon psikologis: menyangkal, marah, cemas, dan mudah tersinggung
1.      Perasaan minder dan tidak berguna di masyarakat
2.      Interaksi social: perasaan terisolasi/ditolak
Perasaan membutuhkan pertolongan orang lain.

Pada tahun 2000 terjadi peningkatan penyebaran epidemic HIV secara nyata melalui pekerja seks komersial, tetapi ada fenomena baru penyebaran HIV/AIDS melalui pengguna narkoba suntik (injecting Drug User – IDU), tahun 2002 HIV sudah menyebar ke rumah tangga (Depkes RI, 2003)[17].
Sejauh ini lebih dari 6,5 juga perempuan usia subur telah terinfeksi HIV. Lebih dari 24.000 perempuan usia subur telah terinfeksi HIV, dan sedikitnya 9000 perempuan hamil terinfeksi HIV positif setiap tahun. Bila tidak ada program pencegahan, lebih dari 30% diantaranya melahirkan bayi yang tertular HIV. Pada tahun 2015, diperkirakan akan terjadi penularan pada 38.500 anak yang dilahirkan dari ibu yang terinfeksi HIV. Sampai tahun 2006, diprediksi 4.360 anak terkena HIV dan separuh diantaranya meninggal dunia. Saat ini diperkirakan 2320 anak terinfeksi HIV[17].
Kebanyakan wanita mengurus keluarga dan anak-anaknya selain mengurus dirinya sendiri sehingga gangguan kesehatan pada wanita akan mempengaruhi seluruh keluarganya. Wanita dengan HIV/AIDS harus mendapatkan dukungan dan perawatan mencakup penyuluhan yang memadai tentang penyakitnya, perawatan, pengobatan, serta pencegahan penularan pada anak[17].

Pengkajian Riwayat Obstetri
            Memberikan intormasi yang penting mengenai kehamilan sebelumnya agar perawat dapat menentukan kemungkinan masalah pada kehamilan-sekarang. Riwayat Obstetri meliputi hal-hal di bawah ini.
       a.       Gravida, para-abortus, dan anak hidup (GPAH).
       b.      Berat badan bayi waktu lahir dan usia gestasi.
       c.       Pengalaman persalinan, jenis persalinan, tempat persalinan, dan penolong persalinan.
       d.      jenis anestesi dan kesulitan persalinan.
       e.       Komplikasi maternal seperti diabetes, hiperlensi, infeksi, dan perdarahan.
       f.       Komplikasi pada bayi.
       g.      Rencana menyusui bayi.

Riwayat Menstruasi
            Riwayat menstruasi yang lengkap diperlukan untuk menentukan taksiran persalinan (TP). TP ditentukan berdasarkan hari pertama haid terakhir (HPHT). Untuk menentukan TP berdasarkan HPHT dapat digunakan rumus Naegle, yaitu Hari ditambah tujuh, bulan dikurangi tiga, tahun disesuaikan.
Contoh:
HPHT 30 Agustus 2004 berarti TP tanggal 6 Juni 2005. Aturan Naegle lebih akurat dilakukan pada ibu dengan siklus menstruasi yang teratur dengan 28 hari, kurang akurat pada ibu dengan siklus menstruasi yang tidak teratur.

Riwayat Kontrasepsi
            Beberapa bentuk kontrasepsi dapat berakibat buruk pada janin, ibu, atau keduanya. Riwayat kontrasepsi yang lengkap harus didlapatkan pada saat kunjungan pertama. Penggunaan kontrasepsi oral sebelum kelahiran dan berlanjut saat kehamilan yang tidak diketahui dapat berakibat buruk pada pembentukan organ seksual janin.

Riwayat Penyakit dan Operasi
Kondisi kronis (menahun/terus menerus) seperti DM, hipertensi, dan penyakit ginjal bisa berefek buruk pada kehamilan. Oleh karena itu adanya penyakit infeksi, prosedur infeksi dan trauma pada persalinan sebelumnya harus didokumentasikan.

Riwayat Kesehatan
      a. Riwayat kesehatan yang dikaji meliputi hal-hal sebagai berikut.
      b. Usia, ras, dan latar belakang etnik (berhubungan dengan kelompok risiko tinggi untuk masalah genelis seperti anemia sickle sel, talasemia).
      c. Penyakit pada masa kanak-kanak dan imunisasi.
      d. Penyakit kronis (menahun/terus-menerus).
      e. Penyakit sebelumnya, prosedur operasi, dan ccdera (pelvis dan pinggang).
      f. Infeksi sebelumnya seperti hepatitis, penyakit menular seksual, dan tuberkulosis.
      g. Riwayat dan perawalan anemia.
      h. Fungsi vesika urinaria dan bowel (fungsi dan perubahan).
      i. Jumlah konsumsi katein tiap hari seperti kopi, teh, coklat, dan minuman ringanlainnya,
      j. Merokok (Jumlah batang per hari).
      k. Kontak dengan hewan peliharaan seperti kucing dapat meningkatkan risiko terinfeksi toxoplasma.
      l. Alergi dan sensitif dengan obat.
     m. Pekerjaan yang berhubungan dengan risiko penyakit.
     n. Riwayat keluarga.
     Memberikan informasitentang kesehatan keluarga, termasuk penyakit kronis (menahun/terus--menerus) seperti diabetes melilus dan jantung, infeksi seperti tuberkulosis dan hepatitis, serta riwayat kongenital yang perlu dikumpulkan.
      o. Riwayat kesehatan pasangan.
Untuk menentukan kemungkinan masalah kesehatan yang berhubungan dengan masalah genetik, penyakit kronis, dan infeksi. Penggunaan obat-obatan seperti kokain dan alkoholakanberpengaruh pada keraampuankeluarga untuk menghadapa kehamilan dan persalinan. Rokok yang digunakan oleh ayah akan berpengaruh pada ibu dan janin, terulama risiko mengalami komplikasi pernapasan akibat sebagai perokok pasif. Golongan darah dan tipe Rhesus ayah penting jika ibu dengan Rh negatif dan kemungkinan inkompabilitas darah dapat terjadi.

Pemeriksaan Fisik
a. Tanda Tanda Vital
1). Tekanan darah
Posisi pengambilan tekanan darah sebaiknya ditetapkan, karena posisi akan memengaruhi tekanan darah pada ibu hamil. Sebaiknya tekanan darah diukur pada posisi duduk dengan lengan sejajar posisi jantung. Pendokumentasian perlu dicatat posisi dan tekanan darah yang didapatkan.
2). Nadi
Frekuensi nadi normalnya 60-90 kali per menit. Takikardi bisa terjadi pada keadaan cemas, hipertiroid, dan infeksi. Nadi diperiksa selama satu menit penuh untuk dapat menentukan keteraturan detak jantung. Nadi diperiksa untuk menentukan masalah sirkulasi tungkai, nadi seharusnya sama kuat dan teratur.
3). Pernapasan
Frekuesi pernapasan selama hamil berkisar antara 16-24 kali per menit. Takipnea terjadi karena adanya infeksi pernapasan atau penyakit jantung. Suara napas hams sama bilateral, ekspansi paru simetris, dan lapangan paru bebas dari suara napas abdominal.
4). Suhu
Suhu normal selama hamil adalah 36,2-37,6 °C. Peningkatan suhu menandakan terjadi infeksi dan membutuhkan perawatan medis.
b. Sistem Kardiovaskuler
Bendungan vena
Pemeriksaan sistem kardiovaskular adalah observasi terhadap bendungan vena, yang bisa berkembang menjadi varises. Bendungan vena biasanya terjadi pada tungkai, vulva, dan rektum
Edema
Edema pada tungkai merupakan refleksi dari pengisian darah pada ekstremitas akibat perpindahan cairan intravaskular ke ruang intertisial. Ketika dilakukan penekanan dengan jari atau jempol menyebabkan terjadinya bekas tekanan, keadaan ini disebut pitting edema. Edema pada tangan dan wajah memerlukan pemeriksaan lanjut karena merupakan tanda dari hipertensi pada kehamilan.
c. Sistem Muskuloskeletal
1). Postur
Mekanik tubuh dan perubahan postur bisa terjadi selama kehamilan. Keadaan ini mengakibatkan regangan pada otot punggung dan tungkai.
2). Tinggi dan berat badan
Berat badan awal kunjungan dibutuhkan sebagai data dasar untuk dapat menentukan kenaikan berat badan selama kehamilan. Berat badan sebelum konsepsi kurang dari 45 kg dan tinggi badan kurang dari 150 cm ibu berisiko melahirkan bayi prematur dan berat badan lahir rendah. Berat badan sebelum konsepsi lebih dari 90 kg dapat menyebabkan diabetes pada kehamilan, hipertensi pada kehamilan, persalinan seksio caesarea, dan infeksi postpartum.
3). Pengukuran pelviks
Tulang pelviks diperiksa pada awal kehamilan untuk menentukan diameternya yang berguna untuk persalinan per vaginam.
4). Abdomen
Kontur, ukuran, dan tonus otot abdomen perlu dikaji. Tinggi fundus diukur jika fundus bisa dipalpasi diatas simfisis pubis. Kandung kemih harus dikosongkan sebelum pemeriksaan dilakukan untuk menetukan keakuratannya. Pengukuran metode Mc Donald dengan posisi ibu berbaring.
d. Sistem neurologi
Pemeriksaan neurologi lengkap tidak begitu diperlukan bila ibu tidak memiliki tanda dan gejala yang mengindikasikan adanya masalah. Pemeriksaan refleks tendon sebaiknya dilakukan karena hiperefleksi menandakan adanya komplikasi kehamilan
e. Sistem Integumen
      Warna kulit biasanya sama dengan rasnya. Pucat menandakan anemis, jaundice menandakan gangguan pada hepar, lesi, hiperpigmentasi seperti cloasma gravidarum, serta linea nigra berkaitan dengan kehamilan dan strie perlu dicatat. Penampang kuku ber warna merah muda menandakan pengisian kapiler baik.
f. Sistem endokrin Pada trimester kedua kelenjar tiroid membesar, pembesaran yang berlebihan menandakan hipertiroid dan perlu pemeriksaan lebih lanjut.
g. Sistem Gatsrointestinal
Mulut
Membran mukosa berwarna merah muda dan lembut. Bibir bebas dari ulserasi, gusi berwarna kemerahan, serta edema akibat efek peningkatan estrogen yang menyebabkan hiperplasia. Gigi terawat dengan baik, ibu dapat dianjurkan ke dokter gigi secara teratur karena penyakit periodontal menyebabkan infeksi yang memicu terjadinya persalinan prematur. Trimester kedua lebih nyaman bagi ibu untuk melakukan perawatan gigi.
Usus
Stetoskop yang hangat untuk memeriksa bising usus lebih nyaman untuk ibu hamil. Bising usus bisa berkurang karena efek progesteron pada otot polos, sehingga menyebabkan konstipasi. Peningkatan bising usus terjadi bila menderita diare.
h. Sistem Urinarius
Protein
Protein seharusnya tidak ada dalam urine. Jika protein ada dalam urine, hal ini menandakan adanya kontaminasi sekret vagina, penyakit ginjal, serta hipertensi pada kehamilan.
Glukosa
Glukosa dalam jumlah yang kecil dalam urine bisa dikatakan normal pada ibu hamil. Glukosa dalam jumlah yang besar membutuhkan pemeriksaan gula darah.
Keton
Keton ditemukan dalam urine setelah melakukan aktivitas yang berat atau pemasukan cairan dan makanan yang tidak adekuat.
Bakteri
Peningkatan bakteri dalam urine berkaitan dengan infeksi saluran kemih
yang biasa terjadi pada ibu hamil.
i. Sistem reproduksi
1). Ukuran payudara, kesimetrisan, kondisi puling, dan pengeluaran kolostrum perlu dicatat. Adanya benjolan dan tidak simetris pada payudara membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut.
2). Organ reproduksi eksternal
Kulit dan membran mukosa perineum, vulva, dan anus perlu diperiksa dari eksoriasi, ulserasi, lesi, varises, dan jaringan parut pada perineum.
3). Organ reproduksi internal
Serviks berwarna merah muda pada ibu yang tidak hamil dan berwarna merah kebiruan pada ibu hamil yang disebut tanda Chadwik.

NANDA – NOC – NIC [26,27,28]
      1.    Risiko infeksi  definisi peningkatan risiko untuk penyerbuan dari organism patogenik
Faktor Risiko:
  ü  Inadekuat imunitas

NOC
       ·         Keparahan infeksi
       ·         Status imunitas :
       ·         screening infeksi saat ini
       ·         kehilangan berat badan

NIC
Infection control (Perlindungan terhadap infeksi)
        ·         membersihkan lingkungan tepat setelah setiap kali digunakan pasien
mengganti peralatan perawatan pasien per lembaga protokol
        ·         mengurangi jumlah pengunjung, jika diperlukan
        ·         ajarkan cara mencuci tangan untuk kesehatan personil
        ·         minta pasien untuk selalu mencuci tangan sebelum dan sesudah aktifitas
        ·         memastikan penanganan aseptic pada semua pengobatan IV
        ·         memastikan teknik perawatan luka yang tepat
        ·         mendorong pasien untuk banyak beristirahat
        ·         mempromosikan pemasukan nutrisi yang dibutuhkan

      2.    Ketidakseimbangan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh definisi Pemasukan nutrisi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolik.b.d factor biologi/ ketidakmampuan ingesti makanan/ ketidakmampuan mencerna makanan
Ditandai dengan:
  ü  kurang tertarik pada makanan
  ü  kelemahan otot yang diperlukan untuk menelan dan mengunyah
  ü   diare
  ü  (wasting syndrome)

NOC
Status gizi
       ·         Makanan oral,
       ·         pemberian makanan lewat slang, atau nutrisi parenteral total
       ·         Asupan cairan oral atau IV

NIC
Nutrition Management
       ·         Gali apakan pasien memiliki riwayat allergi makanan
       ·         Pastikan pilihan makanan klien
       ·         Kolaborasi dengan ahli diet, menentukan jumlah kalori dan tipe zat gizi yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi
       ·         Anjurkan klien meningkatkan intake protein, zat besi dan vitamin C
       ·         Tawarkan makanan ringan
       ·         Pastikan diet mengandung makanan berserat tinggi untuk mencegah konstipasi
       ·         Sediakan pilihan makanan
       ·         Nilai kemampuan pasien memenuhi kebutuhan nutrisi
       ·         Berikan substansi gula
       ·         Pantau jumlah nutrisi dan kandungan kalorinya

Nutrition Monitoring
       ·         Ukur BB klien
       ·         Pantau perubahan kenaikan dan penurunan BB
       ·         Pantau type dan jumlah aktivitas yang bisa dilakukan
       ·         Pantau respon emosi pasien saat melakukan kegiatan yang berhubungan dengan makan dan makanan.
       ·         Pantau interaksi orang tua/anak selama pemberian makan
       ·         Pantau lingkungan selama makan
       ·         Jadualkan tindakan dan pengobatan  pada waktu diluar waktu makan
       ·         Pantau adanya kekeringan, defigmentasi dan sisik pada kulit
       ·         Pantau turgor kulit
       ·         Pantau adanya mual dan muntah
       ·         Pantau nilai albumin, protein total, Hb dan Hct
       ·         Pantau limfosit dan elekrolit
       ·         Pantau tingkat energi, kelelahan, lemas, dan lemah
       ·         Pantau asupan zat gizi dan kalori
       ·         Tentukan apakah klien memerlukan diet khusus
       ·         Pantau pilihan dan pemilihan makanan
       ·         Catat perubahan besar pada status nutrisi dan lakukan pengobatan
       ·         Berikan lingkungan yang optimal saat waktu makan

      3.    Kecemasan definisi perasaan gelisah yang tidak  jelas atau ketidaknyamanan atau ketakutan diikuti dengan respon autonom (sumbernya kadang nonspesifik atau tidak diketahui oleh individu); perasaan dari keprihatinan yang disebabkan oleh antisipasi dari bahaya. Itu merupakan sinyal siaga yang mengingatkan akan datangnya bahaya dan kemampuan individu untuk mengukur adanya ancaman b.d Perubahan status kesehatan/ Stress/ Ancaman dari status kesehatan/ Fungsi peran.
Ditandai dengan:
   ü  Kurang istirahat
   ü  Ketakutan
   ü  Kelemahan
   ü  Kebingungan

NOC
       ·         Mengakui dan mendiskusikan takut/ masalah
       ·         Menunjukkan rentang perasaan yang tepat dan penampilan wajah tampak rileks/ istirahat
       ·         Menyatakan pengetahuan yang akurat tentang situasi.

NIC
Kontrol kecemasan diri
       ·         Monitor intensitas
       ·         Kecemasan
       ·         Mencari informasi untuk mengurangi cemas
       ·         Merencanakan strategi koping untuk situasi stress
       ·         Gunakan teknik relaksasi untuk mengurangi cemas

      4.    Hipertermi definisi Suhu tubuh tinggi di atas range normal b.d Penyakit
Ditandai dengan:
   ü  Peningkatan suhu tubuh diatas range normal
   ü  Hangat ketika disentuh
   ü  Takikardi

NOC
Thermoregulasi
(Keseimbangan antara produksi panas, perolehan panas, dan kehilangan panas tubuh)
Hidrasi
Cairan yang adekuat dalam kompartemen ekstra seluler dan intraseluler tubuh)
Status Imun
(Pertahanan alamiah dan yang dibutuhkan secara tepat terhadap antigen internal dan eksternal)

NIC
Fever  Treatment
  ü  Pantau suhu secara teratur
  ü  Pantau IWL
  ü  Pantau warna kulit dan suhu
  ü  Pantau tekanan darah, nadi, dan respirasi
  ü  Pantau adanya penurunan kesadaran
  ü  Pantau adanya serangan panas
  ü  Pantau intake dan output
  ü  Berikan medikasi antipiretik, sesuai anjuran
  ü  Berikan medikasi untuk mengobati penyebab demam, sesuai anjuran
  ü  Selimuti pasien dengan selimut tipis
  ü  Beri kantong es yang dibungkus hnduk pada axila dan lipat paha
  ü  Tingkatkan sirkulasi udara menggunakan kipas angin
  ü  Dorong  klien melakukan oral hygien
  ü  Beri medikasi yang tepat untuk mencegah atau mengontrol menggigil

Temperature regulation
  ü  Pantau suhu tubuh setiap 2 jam
  ü  Pantau tekanan darah, nadi dan pernafasan
  ü  Pantau warna kulit dan suhu tubuh
  ü  Pantau dan catat adanya tanda dan gejala hypotermi atau hipertermi
  ü  Dukung  asupan cairan dan makanan yang adekuat
  ü  Ajarkan klien cara untuk mencegah keletihan karena panas
  ü  Barikan medikasi antipiretik, jika perlu

      5.    Menyusui yang dihentikan definisi Pengistirahatan dari kelanjutan proses menyusui sebagai akibat dari ketidakmampuan atau ketidakbijaksanaan untuk memberikan air susu sebagai makanan kepada bayi b.d Penyakit ibu
Ditandai dengan:
  ü  Pemisahan ibu dan bayi













DAFTAR PUSTAKA

       1.      Hartati Nyoman, Suratiah, Mayuni IGA Oka. Ibu Hamil dan HIV-AIDS. Gempar: Jurnal Ilmiah Keperawatan Vol. 2 No.1 Juni 2009.
       2.      Doku Paul Narh. Parental HIV/AIDS status and death, and Children’s Phychological Wellbeing. International Journal of Mental Health system 2009;3(26):1-8
       3.      Siregar FA. Pengenalan dan Pencegahan HIV-AIDS. Medan. Universitas Sumatera Utara, 2004.
       4.      Heemanides HS, Lonneke AVV, Ralph V, Fred DM, Aimee D, Gerard VO, et all. Developinh quality indicators for the care of HIV-infected pregnant women in the Dutch Caribbean. Aids Research and Therapy 2011; 8(32) : 1-9.
       5.      Wamoyi J, Martin M, Janet S, Josephine B, Shabbar J. Changes in sexual desires and behaviours of people living with HIV after initiation of ART: Implications for HIV prevention and health promotion. BMC Public Health 2011; 11(633): 1-11.
       6.      Bradley-Springer L, Lyn S, Adele W. Every Nurse Is an HIV Nurse. AJN 2010;110(3):33-39.
       7.      Bastien S, LJ Kajula, WW Muhwezi. A review of studies of parent-child communication about sexuality and HIV/AIDS in sub-Saharan Africa. Reproductive Health 2011;8(25):1-17.
       8.      Anonymous. HIV/ AIDS. WHO. 2010
       9.      Dorland WAN. 2010. Kamus Kedokteran Dorland Edisi 31. Jakarta: EGC.
      10.  Isselbacher, Braunwald, Wilson, Martin, Fauci, Kasper. Harrison: Prinsip- Prinsip Ilmu Penyakit Dalam Vol. 1 (Edisi 13). 1995.
        11.  Walter J, Linda F, Melanie JO, William DD, Theresa G, Alice S, et all. Immunomodulatory factors in cervicovaginal secretions from pregnant and non-pregnant women: A cross-sectional. BMC Infectious Disease 2011; 11(263): 1-7.
       12.  Anonymous. 2007. Rencana Nasional Penanggulangan HIV-AIDS  di Indonesia 2007-2010. Jakarta: Komisi Penanggulangan AIDS.
        13.  Susanti NN. Psikologi Kehamilan. Jakarta: EGC, 2000.
       14.  Hanafiah MJ, Amir A. Etika Kedokteran & Hukum Kesehatan Edisi 4. EGC: Jakarta. 2007.
       15.  Hartati N, Suratiah, Iga OM. Ibu hamil dengan HIV-AIDS. Gempar: Jurnal Ilmiah Keperawatan. 2009:2:1.
       16.  Bobak, Lowdermik, Jensen. 2005. Buku Ajar Keperawatan Maternitas Edisi 4. Jakarta: EGC.
       17.  Nursalam, Kurniawan ND. 2007. Asuhan Keperawatan pada Pasien Terinfeksi. Jakarta: Penerbit Salemba Medika
       18.  Doengoes ME & Mary Drances Moorhouse. 2001. Rencana Perawatan Maternal/Bayi Edisi 2. Jakarta: EGC.
       19.  Anonymous. Guidelines on HIV and infant feeding 2010 Principles and recommendations for infant feeding in the context of HIV and a summary of evidence. WHO. 2010.
       20.  Price SA, Lorraine MW. 2006. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit Edisi 6 Volume 1. Jakarta: EGC.
       21.  Anderson Brena L, Uvin Susan Cu. Pregnancy and optimal care of HIV-Infected  Patients. Clinical Infectious Diseases, 2009; 48: 449-55.
       22.  Anonymous. 2010. HIV and Pregnancy: anti-HIV medications for Use in Pregnancy. AIDS info: A service of the U.S. Department of Health and Human Service.
       23.  Anonymous. 2009. ISO indonesia. Jakarta: Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia.
       24.  Anonymous. 2010. WHO recommendations on the diagnosis of HIV infection in infant and children. WHO.
       25.  Trsetianingsih Y.  2011. Keperawatan Ibu Hamil. Yogyakarta: Program Studi Ilmu Keperawatan STIKES A. Yani.
       26.  Wiley, Blackwell. Nursing Dianoses Definition and Classification 2009-2011. 2009. United States of America: Mosby Elsevier.
       27.  Moorhead S, Johnson M, Maas ML, Swanson E. 2009. Nursing Outcome Classification (NOC) Fourth Edition. United States of America: Mosby Elsevier.
       28.  Bulechek GM, Butcher HK, Dochterman JM. 2009. Nursing Interventions Classification (NIC) Fifth Edition. United States of America: Mosby Elsevier.

0 komentar:

Poskan Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Enterprise Project Management